Riview Buku Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan

 


Titik Nol (Makna sebuh perjalanan)

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Pria itu bernama Agustinus Wibowo pada usia 20 -an, bentuk tubuhnya yang mungil dan prilakunya membuat agustinus lebih mirip anak remaja. Modal nekat, dia mengellilingi beberapa negara dan di beberapa tempat berbeda -India, Pakistan, Afganistan, dan China. Petualangan Agustinus dimulai saat ia menembus Tibet secara ilegal dengan hanya bermodalkan wajahnya yang mirip penduduk setempat. Ia sukses berziarah mengelilingi Gunung suci Kailash. Memasuki pegunungan Himalaya, nasibnya sial ketika di Nepal lantaran dompetnya dicuri, menjadi pengembara kere. Pindah ke India, Agustinus harus membuyarkan imajinasinya tentang negeri tarian ala film Bollywood. Satu tujuan mulia yang akhirnya terlaksana, dia menjadi relawan gempa di lembah Kashmir yang mempesona. Di Pakistan dan Afganistan, Agustinus menjadi saksi mata atas konflik agama dan perang berkecamuk yang tiada henti.

Buku Ini merupakan karangan pertama Agustinus sebelum menulis buku Garis Batas dan Selimut debu. Tanpa membaca buku-buku Agustinus, aku tidak akan pernah tahu tentang keadaan yang sebenarnya negara-negara Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Selatan, negara-negara yang dikunjungnya. Buku ini mengisahkan perjalanan di berbagai negara dari sudut pandang berbeda, yang selama ini tidak banyak diangkat ke media  Buku travel writing yang menyuguhkan hal berbeda, pengalaman berbeda, sudut pandang yang berbeda, bahkan pemaknaan yang berbeda tentang arti sebuah perjalanan.  Tak hanya lewat tulisan, foto-foto yang disajikan dalam buku, di setiap lembar fotonya, membuat hati ini teriris seolah bisa menyaksikan langsung keadaan mereka, tapi sekaligus di satu sisi merasa bersyukur dengan kehidupan kita dan di sisi lain bisa berempati seolah merasakan derita yang mereka alami. Seakan berbicara tentang orang-orang, keadaan bahkan suasana yang ditemui oleh Agustinus.

            Jujur, buku ini adalah buku yang sangat aku sukai, aku membacanya sampai-sampai setahun sekali karena banyak pesan-pesan moral yang tersampaikan dan membuat kita bersyukur bahwa di dunia sana masih banyak orang-orang yang sulit dalam menjali hidup. Dengan kita mengetahui itu hiduppun tak menjadi cengeng.

            Membaca Titik Nol ibarat membaca sebuah skenario perjalanan seorang anak manusia yang sebenarnya lugu dan selalu berpikir semua orang baik hingga akrab dengan tipu daya, pencopet dan bahkan pelecehan seksual. Skenario ini seperti grafik, ada ketegangan, ada keharuan, ada kelucuan dan tentu saja ada perenungan yang dalam. Skenario tentang perjalanan yang benar-benar penuh makna.

Komentar